ASUHAN KEPERAWATAN DHF PADA ANAK
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Pengertian
DHF
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Nursalam, dkk. 2008).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang
terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang
tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Hidayatalimulaziz.
2006).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut
yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Suriadi.
2010).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan
bahwa dengue haemorhagic fever (DHF)
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan
orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
disertai ruam atau tanpa ruam.
B.
Klasifikasi
1.
Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain
atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan
hemokonsentrasi.
2.
Derajat II :
Derajat I di sertai perdarahan spontan di kulitdan atau perdarahan lain.
3.
Derajat III :
Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin lembab,
gelisah.
4.
Derajat IV :
Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat di ukur.
C.
Etiologi
DHF
Virus
dengue sejenis arbovirus yang di
tularkan melalui gigitan nyamuk aedes
aegypti. Nyamuk aedes aegypti berbentuk batang, stabil pada suhu 37 0C. Adapun
ciri-ciri nyamuk penyebar demam berdarah adalah :
1.
Badan kecil,warna hitam dengan
bintik-bintik putih
2.
Hidup didalam dan sekitar rumah
3.
Menggigit dan menghisap darah pada waktu
siang hari
4.
Senang hinggap pada pakaian yang
bergantung didalam kamar
Bersarang
dan bertelur digenangan air jernih didalam dan sekitar rumah seperti bak mandi,
tempayan vas
bunga.
D.
Patofisiologi
Berdasarkan
klasifikasi derajat ringan dan beratnya penyakit DHF dibagi menjadi empat
derajat yaitu : Derajat 1 demam disertai gejala klinis lainnya pendarahan
ringan, uji tourniquet positif, trambositopenia hemokonsentrasi, Derajat II
seperti derajat I disertai pendarahan spontan dikulit dan pendarahan lain,
Derajat III ditemukan kegagalan sirkulasi dengan adanya nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit yang
dingin dan lembab, dan tekanan darah yang tak dapat diukur.
Penyebab
DHF yaitu virus dengue terdiri dari 4 serotipe 1,2,3,4 yang ditularkan melalui
vector nyamuk aedes aegypthy. Infeksi dengan salah satu serotif akan
menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotip lain.
Virus
Dengue dianggap sebagai antigen sehingga akan merangsang tubuh untuk
mengeluarkan antibody humoral dan sekuler. Dalam virus tidak langsung
menimbulkan gejala tetapi mengalami masa inkubasi kurang lebih 2 minggu. Hal
ini tergantung dari banyaknya virus yang masuk, virulensi atau keganasan dan
daya tahan tubuh. Setelah terjadi masa inkubasi maka akan terjadi viremia yaitu
adalah virus dalam darah. Viremia ini berjalan singkat mulai dua hari sebelum
panas dan mencapai puncaknya setelah mencapai 6-7 hari bersamaan dengan
timbulnya antibody yang memiliki aktivitas netralisasi atau aktivitas komplemen
akhirnya banyak virus di hilangkan
dan penderita mengalami penyembuhan selanjutnya terjadilah seumur hidup
terhadap serotip virus yang sama, tetapi tidak melindungi terhadap serotip yang
lain (proses infeksi primer). Infeksi sekunder terjadi jika tubuh mendapatkan
infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berbeda dan lebih vurulen.
Terdapatnya kompleks virus dalam sirkulasi darah menyebabkan suatu aktivitas
sistem komplemen yang mengakibatkan dilepaskannya anafilaktosin C3a dan C5a
yang berdaya untuk melepaskan histamin dan serotonin yang berdampak meningginya
permeabilitis pembuluh darah dan pada sistem koagulasi mengakibatkan
menghilangnya plasma melalui dinding endotel pembuluh darah sehingga terjadi
perembesan plasma dari ruang intravaskuler keruang ekstavaskuler, kedua agresi
trombosit menurun, apa bila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan
fungsi trambosit, sebagai akibat mobilisasi sel trambosit muda dari sumsum
tulang,
Pada keadaan agregasi akan
melepaskan amin vaso aktif (histamin dan serotonin) yang bersifat meninggikan
permaebilitis kapiler dan melepaskan trambosit faktor 3 yang merangsang reaksi intravaskuler. Ketiga
terjadinya aktivitas factor hagemen (faktor XII) akibat terjadinya pembekuan intravaskuler
yang berperan dalam pembentukkan anafilaktosin dan penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation
product. Disamping itu
aktivasi akan merangsang sistem kinin yang peran dalam proses meningginya permeabilitas
dinding pembuluh darah.
(skema menurut Mansjoer 2001)
Perjalanan penyakit:
Di bawah ini dipaparkan
skema patofisiologi Demam Berdarah Dengue:
|
Demam Anoreksia
Muntah
|
|
Hepatomegali
|
|
Permeabilitas
Vaskular naik
|
|
Trombositopenia
|
|
Kebocoran
Plasma
~
Hemokonsentrasi
~ Hipo
proternemia
~ Efusi
Pleura
~ Ascites
|
|
Hipovolemia
|
|
Syok
|
|
Asidosis
|
|
Anoksia
|
|
Perdarahan saluran
cerna
|
|
I
|
|
II
|
|
Derajat
|
|
III
|
|
IV
|
|
Meninggal
|
|
Manifestasi Perdarahan
|
Demam Berdarah Dengue
derajat I – II – III – IV
(skema
menurut Mansjoer 2001)
E.
Manifestasiklinis
1.
Demam tinggi selama 5 – 7 hari
2.
Mual, muntah, tidak ada nafsu makan
3.
Perdarahan terutama perdarahan bawah
kulit, ptechie.
4.
Nyeri otot
5.
Sakit kepala.
6.
Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit
lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari
dua detik, nadi cepat dan lemah).
F.
Komplikasi
Komplikasi
dapat terjadi apabila kebocoran plasma dari intravaskuler ke ekstravaskuler
yang terus maka akan mengalami syok hipovolemia dan bisa terjadi DSS (Dengue
Syock Sindrom), jika keadaan tersebut tidak teratasi maka akan menyebabkan anoreksia
jaringan, asidosis metabolic dan berakhir dengan kematian, perdarahan terjadi
karena trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya factor
koagulasi
(protombin, factor V. VII, IX, X
dan frinogen) pendarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus
grastrointestinal.
F.
Pemeriksaan
Penunjang
1.
Darah lengkap : hemokonsentrasi
(hematokrit meningkat 20 % atau lebih), trombositopenia (100.000/mm3
atau kurang)
2.
Serologi : uji HI (hemoagutination
inhibition test).
3.
Rontgen thoraks : effusi pleura
G.
Penatalaksanaan
medis
Demam
berdarah dengue, penatalaksanaannya hanya bersifat simptomatis dan suportif.
1.
Pemberian cairan yang cukup
Cairan di berikan untuk mengurangi
rasa haus dan dehidrasi akibat demam tinggi, anoreksia, dan muntah. Penderita
perlu di beri minum sebanyak mungkin (1-2 liter dalam 24 jam).
2.
Antipiretik
Seperti
golongan asetaminofen (parasetamol), jangan berikan golongan salisilat karena
dapat menyebabkan bertambahan perdarahan.
3.
Antikonvulsan
Bila
penderita kejang dapat di berikan :
-
Diazepam
-
Fenobarbital
4.
Pemberian cairan melalui infus, di
lakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung
meningkat.
H.
Konsep tumbuh kembang anak usia sekolah
1.
Motorik
kasar
Loncat tali,
Badminton, Memukul dan Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan
berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.
2.
Motorik
halus
Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan
tangan dan Dapat
meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
3.
Kognitif
Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan
situasi, Dapat
mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah, Dapat membelikan cara
kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal dan
Dapat memahami konsep dahulu,
sekarang dan yang akan datang
4.
Bahasa
Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak, Memakai semua bagian
pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata
depan, Menggunakan
bahasa sebagai alat pertukaran verbal dan Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan.
J.
Teori
Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
1.
Perkembangan
psikoseksual
Menurut Fase laten (6-12 tahun) :
Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis
yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui
aktifitas fisik maupun sosialnya. Pada fase laten, anak perempuan lebih
menyukai teman dengan jenis kelamin perempuan, dan anak laki-laki dengan anak
laki-laki.dalam hal ini, orang tua harus bijaksana dalam merespons, yaitu
menjawabnya dengan jujur dan hangat. Oleh karena itu, apabila anak tidak pernah
bertanya tentang seks, sebaliknya orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sngat
penting dalam melakukan pendekatan dengan anak, pelajari apa yang sebenarnya
sedang di pikirkan anak berkaitan dengan seks.
2.
Perkembangan
psikososial (erikson)
Menurut Industri versus inferiority (6 – 12
tahun)
Anak akan belajar untuk bekerja sama dan
bersaing dengan anak lainnya melalui kegiatan yang di lakukan baik dalam
kegiatan akademik maupun dalam pergaulan melalui permainan yang di lakukannya
bersama. Otonomi mulai berkembang pada anak
mulai fase ini, terutama awal usia 6 tahun dengan dukungan keluarga
dekat. Terjadinya perubahan fisik, emosi dan sosial pada anak berpengaruh terhadap
gambaran terhadap tubuhnya.Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas
denagnteman di lingkungannya dapat memfasilitasi perkembngan perasaan sukses
tersebut.
3.
Perkembangan
kognitif (piaget)
Concrete operation (7 – 11
tahun)
Pada usia ini, pemikiran meningkat atau
bertambah logis dan konkeren. Ada anak mampu mengklasifikasi benda dan perintah
dan menyelesaikan masalah.secara konkrit dan sistematis dan bedasarkan dengan
apa yang mereka terima dari lingkungananya.
Formal operation ( 11- 15 tahun)
Tahapan ini di tunjukan dengan
karakteristik kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya dan kemampuan untuk
fleksibel terhadap lingkungannya.Anak remaja dapat berfikir dengan pola yang
abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan.
I.
Konsep
hospitalisasi pada anak usia sekolah
Hospitalisasi merupakan suatu proses
yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk
tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya
kembali ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami
berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian di tunjukan dengan
pengalaman yang sangat traumatik dan penuh dengan stresas.
J.
Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak
Banyak penelitian membuktikan bahwa perawatan anak
di rumah sakit menimbulkan stress pada anak dan orang tua. Reaksi orang tua
terhadap perawatan anak di rumah sakit latar belakang yang menyebabkan dapat di
uraikan sebagai berikut :
1. Perasaan
cemas dan takut
Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua
melihat anak mendapat prosedur menyakitkan, seperti pengambilan darah, injeksi,
infus, di lakukan fungsi lumbal dan prosedur infasiv lainnya.Perilaku yang
sering di tujukan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan cemas dan takut
ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama secara berulang
pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan bahkan merah.
2. Perasaan
sedih
Perasaan ini muncul terutama pada saat anak dalam
kondisi terminal dan orang tua mengetahui bahwa tidak ada lagi harapan anaknya
untuk sembuh. Pada kondisi ini, orang tua menunjukan perilaku isolasi atau
tidak mau di dekati orang lain. Bahwa tidak bisa kooperatif terhadap petugas
kesehatan.
3. Perasaan
frustrasi
Pada kondisi anak yang telah di rawat cukup lama
dan di rasakan tidak mengalami perubahan serta tidak adekuatnya dukungan
psikologis yang di terima orang tua baik dari keluarga maupun kerabat lainnya
maka orang tua akan merasa putus asa, bahkan frustrasi. Oleh karena itu, sering
kali orang tua menunjukan perilaku tidak koomperatif, putus asa, menolak
tindakan, bahkan menginginkan pulang paksa.
K.
Reaksi anak usia sekolah terhadap hospitalisasi (
6 – 12 tahun)
Perawatan anak di rumah sakit memaksa
anak untuk berpisah dengan lingkungan yang di cintainya, yaitu keluarga dan
terutama kelompok sosialnya dan menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol
tersebut berdampak pada perubahan peran dalam keluarga, anak kehilangan
kelompok sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan
sosial, perasaan takut mati, dan adanya kelemahan fisik.
Reaksi terhadap perlukaan atau rasa
nyeri akan di tunjukan dengan ekspresi baik secara verbal maupun non verbal
karena anak sudah mampu mengomunikasi kannya. Anak usia sekolah sudah mampu
mengontrol perilakunya jika merasa nyeri, yaitu dengan menggigit bibir dan atau
memegang sesuatu dengan erat.
1.
Reaksi anak
saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)
Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya, Dapat mengekspresikan
perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri, Selalu ingin tahu alasan
tindakan
dan Berusaha independen dan produktif.
2.
Reaksi orang
tua
Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur,
pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak dan frustasi
karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak
familiernya peraturan Rumah sakit.
L.
Pengkajian
keperawatan
a.
Kondisi
lingkungan
Sering terjadi
didaerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih ( seperti air
yang mengenang dan gantungan baju dikamar ).
b.
Riwayat penyakit
Sekarang
Didapatkan
adanya keluhan panas mendadak yang disertai mengigil dan saat demam kesadaran kompos
menthis. Turunya panas terjadi antara hari ke -3 dan ke-7 dan anak smakin lemah. Kadang-kadang disertai
keluhan batuk, pilek, mual,
muntah, anareksia, diare/konstipati, sakit keepala, nyeri otot dan
persedian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manipestasi pendarahan pada kulit,
gusi, (grade III, IV) melena atau hemastemesis.
c.
Pemeriksaan
Fisik
1)
Inpeksi : Epitaksis.
2)
Palpasi :Nyeri tekan pada ulu hati dan otot,
hepatomegali, demam tinggi, perifer dingin, dan dispneu.
3)
Uji torniquet
positif (Adanya perdarahan kulit seperti petekhie).
d.
Test diaknostik
1)
Hematorik
meningkat, trombosit menurun, hemoglobin dan natrium.
2)
Rontgent thorax.
3)
Rontgent abdomen
dan USG.
M.
Diagnosa
keperawatan
1.
Hipertemia berhubungan dengan proses
penyakit (virus dalam darah/viremia).
2.
Gangguan pemenuhan kubutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
3.
Resiko tinggi terjadinya perdarahan
berhubungan dengan trombositopenia.
4.
Gangguan aktivitas sehari-hari
berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
5.
Resiko tinggi syok hipovolemik
berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh akibat perdarahan.
6.
Kurang pengetahuan tenang proses
penyakit, diet, perawatan, dan obat-obatan pasien berhubungan dengan kurangnya
informasi.
N.
Intervensi
keperawatan
1.
DX
1 : Hipertemia (suhu naik) berhubungan dengan proses penyakit (viremia/virus).
Tujuan : Hipertemia dapat teratasi
Kriteria Hasil :
Suhu tubuh dalam batas normal (36-370 C).
Mukosa
lembab tidak ada sianosis atau purpura
Intervensi
Mandiri :
1)
Kaji saat timbulnya demam
Rasional : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
2)
Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi,
tensi, pernafasan setiap 3 jam atau lebih sering.
Rasional : Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum klien.
3)
Anjurkan klien untuk banyak minum ± 2,5
liter/24 jam dan jelaskan manfaatnya
bagi klien.
Rasional : Peningkatan suhu
tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan
asupan cairan yang banyak.
4)
Lakukan “Tepid Water Sponge”
Rasional : Tepid Water
Sponge dapat menurunkan
penguapan dan penurunan suhu tubuh.
5)
Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan
pakaian yang tebal.
Rasional:
Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi panas dalam tubuh.
Kolabirasi :
6)
Berikan terapi cairan IVFD dan obat
antipiretik.
Rasional : Pemberian cairan dan
obat antipiretik sangat penting bagi klien dengan suhu tinggi yaitu untuk
menurunkan suhu tubuhnya.
2. DX 2 : Gangguan pemenuhan kebutuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungandengan anoreksia.
Tujuan :Anoreksia dan kebutuhan
nutrisi dapat teratasi.
Kriteria
Hasil : Berat badan stabil dalam batas normal.
Tidak ada mual dan muntah.
Intervensi
Mandiri :
1)
Kaji mual, sakit menelan, dan muntah
yang dialami oleh pasien.
Rasional : untuk menetapkan cara mengatasinya.
2)
Kaji cara/bagaimana makanan dihidangkan
Rasional
:
Cara menghidangkan makanan dapat mempengarauhi nafsu makan klien.
3)
Berikan makanan yang mudah ditelan
seperti bubur, tim, dan hidangkan saat masih hangat.
Rasional : Membantu mengurangi
kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
4)
Jelaskan manfaat makanan/nutrisi bagi
klien terutama saat klien sakit.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi sehingga motivasi makan
meningkat.
5)
Berikan umpan balik positif pada saat
klien mau berusaha menghabiskan makanan.
Rasional : Motivasi dan
meningkatklan semangat pasien.
6)
Catat jumlah/porsi makan yang dihabiskan
oleh klien setiap hari.
Rasional : Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi.
7)
Lakukan oral hygiene dengan menggunakan
sikat gigi yang lunak.
Rasional : Meningkat nafsu makan.
8)
Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mengetahui perkembangan status nutrisi
klien.
Kolaborasi :
9)
Bererikan obat-obatan antasida (anti
emetik) sesuai program/instruksi dokter.
Rasional:
Dengan pembarian obat tersebut diharapkan intake nutrisi klien meningkat karena
mengurangi rasa mual dan muntah.
10)
Kolaborasi dengan ahli gizi dalam
pemberian diit yang tepat.
Rasional :
Membantu proses penyembuhan klien.
3. DX 3 : Resiko tinggi terjadinya
perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
Tujuan : Perdarahan tidak
terjadi.
Kriteria
Hasil : Tanda-tanda vital
normal.
Jumlah
trombosit klien meningkat.
Tidak
terjadi epitaksis, melena, dan hemotemesis
Intervensi
Mandiri :
1)
Monitor tanda-tanda perdarahan dan
trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
Rasonal:
Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda-tanda adanya perforasi pembuluh
darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis berupa
perdarahan (petekie, epistaksis, dan melena).
2)
Anjurkan klien untuk banyak istirahat.
Rasional : Aktivitas yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
3)
Berikan penyelasan pada keluerga untuk
segera melaporkan jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Mendapatkan
penanganan segera mungkin.
4)
Antisipasi terjadinya perdarahan dengan
menggunakan sikat gigi lunak, memberikan
tekanan pada area tubuh setiap kali selesai pengambilan darah.
Rasional : Mencegah terjadinya pendarahan.
4. DX 4 : Gangguan aktivitas sehari-hari
berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
Tujuan : Aktivitas sehari-hari
klien kembali normal.
Kriteria
Hasil :Keadaan umum membaik
Kebutuhan
sehari-hari terpenuhi seperti: makan, minum,
dan personal hyiene (mandi, menggosok
gigi, dan bershampo).
Intervensi
Mandiri :
1)
Kaji kebutuhan klien.
Rasional : Mengidentifikasi
masalah klien.
2)
Kaji hal-hal yang mampu dilakukan klien
berhubungan dengan kelemahan fisiknya.
Rasional:
Mengetahui tindakan keperawtan yang akan diberikan sesuai dengan masalah klien.
3)
Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitas
sehari-hari klien sesuai tingkat keterbatasan klien seperti mandi, makan, dan
eliminasi.
Rasional : Pemberian bantuan
sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai
tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari tanpa membuat klien ketergantungan terhadap perawat.
5. DX 5 : Resiko tinggi syok
hipovolemik berhibungan dengan kurangnya volume cairan tubuh akibat perdarahan.
Tujuan
: Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria
Hasil :Tanda-tanda vital dalam
batas normal.
Keadaan
umum baik, Syok
hipovolemik tidak terjadi.
Intervensi.
Mandiri :
1)
Monitor keadaan umum kilen.
Rasional : Untuk mengetahui jika terjadi tanda-tanda
syok.
2)
Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4
jam.
Rasional : Untuk memastikan
tidak terjadi per syok.
3)
Monitor tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Perdarahan yang cepat
diketahui dapat segera teratasi.
4)
Anjurkan keluarga/klien untuk segera
melapor jika ada tanda-tanda perdarahan.
Rasional : Untuk membantu tim
perawat untuk segara menentukan tindakan yang tepat.
5)
Segera puasakan jika terjadi perdarahan
saluran pencernaan.
Rasional : Untuk membantu mengistirahatkan saluran
pencernaan untuk
sementara selama perdarahan berasal dari
saluran cerna.
6)
Perhatikan keluhan klien seperti pusing,
lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pengaruh
perdarahan.
Kolaborasi :
7)
Berikan therapi cairan intra vena jika
terjadi perdarahan.
Rasional:
Untuk mengetahui kehilangan cairan tubuh yang hebat yaitu untuk mengatasi
syok hipovolemik.
8)
Cek Hb, Ht, Trombosit (sito)
Rasional : Untuk mengetahui
tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami klien, dan untuk acuan melakukan
tindakan lebih lanjut.
9)
Berikan trasfusi sesuai instruksi
dokter.
Rasional : Untuk menganti volume darah serta
komponen yang hilang.
6. DX 6 : Kurang pengetahuan tentang
proses penyakit, diit, perawatan, dan obat-obatan pasien berhubungan dengan
kurangnya informasi.
Tujuan : Pengetahuan klien
bertambah.
Kriteria Hasil :Pengetahuan klien/Keliarga tentang proses penyakit,
diit,perawatan dan obat penderita DHF meningkat dan klien/keluarga mampu
menjelasakan kembali.
Intervensi
Mandiri :
1)
Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga
tentang penyakit DHF.
Rasional : mengetahui sejauh
mana pengetahuan tentang penyakit yang
diderita klien.
2)
Kaji latar belakang pendidikan klien dan
keluarga.
Rasional:
Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan
sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai.
3)
Jelaskan tentang proses penyakit,diit,
perawatan, obat-obatan pada klien dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan
tepat dan jelas.
4)
Berikan kesempatan pada klien/keluarga
untuk bertanya sesuai dengan penyakit yang dialami.
Rasional:
Mengurangi kecemasan dan motivasi klien untuk kooperatif selama masa
perawatan/penyembuhan
5)
Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam
bentuk penjelasan.
Rasional : Dapat membantu mengingat penjelasan
yang telah diberikan karena dapat dilihat atau dibaca berulang kali.